Membaca Strategi Rusia, Komandan Marinir Ukraina Minta Bantuan - 'Waktu kami hanya beberapa jam, tolong kami'
Ket gambar : Asap membumbung di pabrik baja Azovstal setelah Rusia melancarkan gempuran - foto : Reuters Jalurdua.com - Jakarta | Seorang komandan marinir di lini pertahanan terakhir Ukraina di Ko...
- Peluang propaganda
Mariupol adalah markas bagi unit milisi Ukraina yang disebut Brigade Azov. Nama itu diambil dari nama Laut Azov yang menghubungkan Mariupol dengan Laut Hitam. Brigade Azov beranggotakan ekstremis sayap kanan, termasuk neo-Nazi.
Meskipun mereka hanya membentuk fraksi terkecil dari pasukan tempur Ukraina, keberadaan unit itu dimanfaatkan sebagai alat propaganda yang berguna bagi Moskow.
Moskow jadi punya alasan untuk mengumumkan kepada penduduk Rusia bahwa para pemuda mereka dikirim berperang ke Ukraina demi menumpas neo-Nazi.
Jika Rusia berhasil menangkap banyak anggota Brigade Azov hidup-hidup, kemungkinan mereka akan ditampilkan di media yang dikendalikan pemerintah Rusia sebagai bagian dari perang informasi untuk mendiskreditkan Ukraina dan pemerintahnya.
- Mendongkrak semangat Rusia
Jika Mariupol berhasil dikuasai Rusia, kedua belah pihak akan mengalami dampak psikologis yang signifikan dalam perang ini.
Kemenangan Rusia di Mariupol akan memberikan kemungkinan bagi Kremlin untuk menunjukkan kepada penduduknya - melalui media yang dikendalikan negara - bahwa Rusia mencapai tujuannya dan membuat kemajuan.
Bagi Presiden Putin, yang tampaknya menjadikan perang ini lebih bersifat pribadi, ada makna historis dari semua ini. Dia melihat garis pantai Laut Hitam Ukraina adalah bagian dari Novorossiya (Rusia Baru), wilayah Rusia yang berasal dari kekaisaran abad ke-18.
Putin ingin menghidupkan kembali konsep itu, "menyelamatkan Rusia dari tirani pemerintah pro-Barat di Kyiv", seperti pandangannya selama ini. Saat ini, Mariupol menghalanginya mencapai tujuan itu.
Namun, bagi warga Ukraina, hilangnya Mariupol akan menjadi pukulan besar, tidak hanya secara militer dan ekonomi, tetapi juga bagi mereka yang berjuang di lapangan, membela negara mereka.
Mariupol akan menjadi kota besar pertama yang jatuh ke tangan Rusia setelah Kherson, kota yang secara strategis jauh lebih penting, yang nyaris tidak dipertahankan.
Ada aspek moral lain di sini, yaitu penggentaran.
Mariupol telah melakukan perlawanan sengit, tetapi lihatlah ganjarannya.
Kota ini hancur, sebagian besar luluh lantak. Kota itu akan tercatat dalam sejarah bersama Grozny dan Aleppo, tempat-tempat yang akhirnya dibom dan digempur oleh Rusia sampai menyerah, dan kemudian dibuat tinggal puing-puing.
Pesan ke kota-kota Ukraina lainnya sangat jelas, jika kalian memilih sikap yang sama dengan Mariupol, maka kalian bisa mengalami nasib yang sama pula.
"Rusia tidak bisa masuk ke Mariupol," kata Jenderal Sir Richard Barrons, "mereka tidak bisa masuk menggunakan tank-tank, jadi mereka menghancurkannya menjadi puing-puing. Dan itulah yang akan kita lihat di tempat lain yang mereka anggap benar-benar penting." (Agusto / Sumber : Frank Gardner, BBC News - Reuters)
- WNA Inggris Intimidasi Warga Renon Diciduk, Ternyata Overstay
- Nasib 24 Burung Langka: Penyelundup ke Filipina Terancam Bui
- HUT ke-68 Lombok Barat, Mendes Yandri Soroti Etos Kerja Desa
- Menaker Yassierli Dorong Hubungan Industrial Naik Kelas
- Apresiasi Kementan: Percepatan Klaim Asuransi Tani di Lamongan
- Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid
- WNI di Malaysia Diimbau Ikut Repatriasi Migran Sebelum Berakhir
- Krisis Iklim Mengintai, Indonesia Perkuat Aliansi Kehutanan Global
- WNA Inggris Intimidasi Warga Renon Diciduk, Ternyata Overstay
- Nasib 24 Burung Langka: Penyelundup ke Filipina Terancam Bui