Seni Mengelola Atensi: Membedah Fenomena Bad Marketing is Still Marketing dalam Komunikasi Politik Modern

Seni Mengelola Atensi: Membedah Fenomena Bad Marketing is Still Marketing dalam Komunikasi Politik Modern
Bacakan Artikel

Jalurdua.com Intens.id - Lanskap politik kontemporer yang didominasi oleh algoritma, perhatian (attention) telah bergeser dari sekadar instrumen pendukung menjadi komoditas utama yang diperebutkan. Fenomena viralnya nyanyian satir Mas Bahlil Ganteng (MBG) yang mengarah pada sosok Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menjadi contoh paling segar bagaimana dinamika bad marketing is still marketing bekerja di ruang publik Indonesia.

Apa yang awalnya dipandang sebagai ejekan atau konten yang menggelitik (cringe), dalam kalkulasi komunikasi politik modern justru berpotensi menjelma menjadi mesin pelanggeng popularitas. Kasus ini menawarkan ruang akademis yang kaya untuk membedah bagaimana publisitas negatif dikelola, bagaimana ia memengaruhi reputasi personal, dan bagaimana dampaknya terhadap reposisi partai politik sekaku Golkar di tengah polarisasi generasi.

Untuk memahami mengapa pendekatan bad marketing tetap bekerja, kita harus membedahnya melalui pisau analisis Attention Economy Theory yang dipopulerkan oleh Michael Goldhaber. Di era kelimpahan informasi, perhatian publik adalah sumber daya yang sangat terbatas. Dalam ekosistem digital, algoritma tidak memiliki moralitas; ia tidak membedakan apakah sebuah konten disukai karena prestasi atau dihujat karena sensasi.

Sepanjang sebuah konten memicu keterlibatan (engagement) yang tinggi berupa komentar, bagikan (share), dan tontonan berulang, maka sistem akan terus mendorongnya ke permukaan. Nyanyian MBG bertindak sebagai attention grabber yang masif. Bahlil, secara sadar atau tidak, diuntungkan oleh mekanisme ini karena namanya tetap berada di puncak kesadaran publik (top-of-mind awareness), sebuah aset yang sangat mahal dalam pasar politik yang padat.

Efektivitas jangka panjang dari fenomena ini dapat dijelaskan melalui Sleeper Effect, sebuah teori pemrosesan informasi dalam psikologi komunikasi yang dirumuskan oleh Carl Hovland. Teori ini menyatakan bahwa pesan yang datang bersama dengan konotasi negatif atau sumber yang kurang meyakinkan cenderung melunak seiring berjalannya waktu. Pada fase awal, publik mungkin merespons nyanyian MBG dengan nada satir atau sinis.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: