Seni Mengelola Atensi: Membedah Fenomena Bad Marketing is Still Marketing dalam Komunikasi Politik Modern

Seni Mengelola Atensi: Membedah Fenomena Bad Marketing is Still Marketing dalam Komunikasi Politik Modern
Bacakan Artikel

Namun, memori manusia memiliki kecenderungan untuk melepaskan konteks emosional negatif tersebut dan hanya menyisakan asosiasi nama yang familier. Dalam politik praktis, keakraban (familiarity) adalah langkah awal menuju akseptabilitas. Ketika pemilih berada di bilik suara, nama yang sering mereka dengar, meski awalnya lewat jalur lelucon, memiliki peluang memori lebih tinggi untuk dipilih dibandingkan nama yang asing tetapi minim eksposur.

Secara sosiologis, fenomena ini juga merepresentasikan teori Dramaturgy Erving Goffman, khususnya terkait runtuhnya sekat antara panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Politik Indonesia, terutama yang dipraktikkan oleh Partai Golkar, secara historis didominasi oleh panggung depan yang formal, kaku, aristokratis, dan sarat akan tata krama birokrasi Orde Baru.

Kehadiran Bahlil dengan segala narasi viralnya mendobrak pakem tersebut. Gaya komunikasi yang cair, yang membiarkan dirinya menjadi objek humor publik, menurunkan apa yang disebut Geert Hofstede sebagai Power Distance (jarak kekuasaan). Bagi masyarakat kelas bawah, pemimpin yang bisa ditertawakan atau tidak kaku justru terlihat lebih humanis, otentik, dan mudah dijangkau dibandingkan pemimpin yang berjarak di atas menara gading teknokrasi.

Namun, strategi komunikasi berbasis publisitas negatif ini laksana pedang bermata dua yang membelah reputasi personal Bahlil secara tajam (bifurkasional). Di satu sisi, bagi kelompok masyarakat kritis, kelas menengah terdidik, dan akademisi, fenomena MBG mempertebal skeptisisme terhadap pendandalan mutu kepemimpinan nasional.

Ada kecemasan emosional bahwa panggung politik sedang mengalami erosi wibawa teknokratis, di mana kapasitas mengelola kebijakan strategis dibayangi oleh keriuhan gimmick yang artifisial. Namun di sisi lain, bagi basis massa populis, reputasi Bahlil justru menunjukkan resiliensi yang tinggi. Karena fondasi citra Bahlil tidak dibangun sebagai sosok ningrat yang suci dari noda, melainkan sebagai petarung politik pragmatis yang merangkak dari bawah (mantan sopir angkot dan pengusaha daerah), badai satire ini gagal meruntuhkan kredibilitasnya. Publik melihatnya sebagai figur yang tahan banting dan adaptif terhadap kerasnya kultur digital.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: