Senin, September 26, 2022

67 Tahun Konperensi Asia-Afrika: Mengenang Bocornya Gedung Merdeka Karena Hujan

Date:

Populer hari ini

La Baco

Bagi Belanda, tidak semua anak keturunan ningrat bisa diajak bekerjasama. Terbukti banyak tokoh pemuda terpelajar yang bergelar Andi yang kemudian memimpin gerakan menentang Belanda.

Inai Tutu Iya Upa’, Inai Pacapa’ Iya Cilaka

Sejarah dunia menunjukkan hanya homo sapiens yang selalu bermasalah...

Jalurdua.com – Jakarta | Tepatnya kemarin Senin 18 April 2022, 67 tahun Konperensi Asia Afrika di Kota Bandung kembali diperingati.

Sejumlah kisah menarik dan unik mewarnai jalannya konferensi negara-negara dan para perwakilan aktivis pergerakan di Asia Afrika tersebut seperti atap Gedung Merdeka yang bocor hingga suasana Bandung saat itu yang sangat semarak melebihi Lebaran.

Kepanikan melanda Roeslan Abdoelgani saat tengah menyantap makan siang di tengah penginapannya.

Laporan dari pemimpin regu penjagaan Gedung Merdeka membuat Roeslan tak rampung menyelesaikan santap siangnya.

“Pak, lapor! Gedung Merdeka bocor. Di bagian ruang sidang pleno. Payah Pak! Basah di mana-mana. Air menggenang di lantai.” Demikian laporan pemimpin regu penjagaan itu.

Roeslan langsung meloncat ke dalam mobil bersama dua stafnya dan menuju Gedung Merdeka.

Kepanikan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri tersebut beralasan. Pembukaan Konperensi Asia Afrika baru saja digelar di Bandung pada hari itu, atau Senin 18 April 1955.

Presiden Sukarno bahkan telah berpidato membuka acara dengan kata-katanya menggugah tentang kebangkitan bangsa-bangsa Asia Afrika yang ditindas kolonialisme. Namun, alam punya bahasa sendiri dengan hujan deras yang mengguyur Bandung dan disertai halilintar.

Saat tiba, Roeslan menyaksikan pemandangan yang mengerikan.

“Yang paling hebat bocornya ialah di sebelah pinggiran bagian Barat. Air terus nerocos dari atas. Tempat duduk delegasi di bagian Barat, dan tempat balkan bawah untuk para Menteri dan pembesar-pembesar lain basah kuyup. Lantai di bawahnya tergenang Air!” tulis Roeslan dalam bukunya, The Bandung Connection: Konperensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.

Beruntung jalannya konperensi yang memasuki sidang pleno tengah diskors pada pukul 13.00 dan dilanjutkan pukul 15.00. Di antara waktu jeda atau skors itu peristiwa menegangkan bagi panitia acara tersebut berlangsung.

Bocor Gedung Merdeka diduga terjadi karena genteng yang merosot. Namun, perbaikan dengan membenarkan posisi genteng tersebut juga sulit dilakukan lantaran derasnya hujan.

Pukul 14.00, tutur Roeslan, hujan berhenti dan sejumlah pegawai Departemen Pekerjaan Umum naik ke atas dari tembok luar sebelah gedung.

Pekerjaan lain membersihkan genangan air di dalam gedung menunggu Roeslan dan belasan petugas lain demi menyelamatkan wajah negara ini selaku tuan rumah konperensi.

“Saya dan staf saya beserta belasan petugas-petugas lainnya terus memobilisasi lap-lap pel dan goni-goni dan ember-ember air yang ada. Sambil melepaskan celana, jas, kemeja, kaos kaki dan sepatu dan hanya mengenakan celana dan kaos dalam saja kita (kami) semua mengepel lantai, mengeringkan kursi-kursi dan meja-meja dengan goni-goni dan lap-lap yang dapat menyerap air!” ucap Roeslan yang kemudian ditunjuk sebagai Sekjen Konperensi Asia-Afrika itu. Guna mencegah delegasi yang datang lebih awal, pintu gedung ditutup rapat hingga pukul 14.45.

“Coba pikirkan, bagaimana malu kita anda kata sampai ada delegasi yang mengetahui apalagi para wartawan luar negeri. Lebih-lebih lagi yang tidak simpatik terhadap kita,” tutur Roeslan. Untungnya, hujan di hari pertama konperensi yang merepotkan itu tak berulang lagi di hari-hari berikutnya. Segala cara dilakukan panitia lokal guna menolak hujan. “Konon kabarnya panitia lokal telah giat mengerahkan segala macam kekuatan ‘gaib’ untuk menolak hujan, dengan keris, sapu lidi, lombok merah, pakaian dalam yang sudah amoh dilemparkan ke atas Gedung Merdeka dan sebagainya dan sebagainya,” kata Roeslan.

Bandung Semarak
Bandung menjadi semarak kala menjadi tuan rumah Konperensi Asia Afrika. Murid-murid sekolah dikerahkan untuk menyambut para tamu dari berbagai negara itu. Para RT juga diperintahkan lurah-lurah mereka untuk bergotong royong membersihkan lingkungan hingga mengecat rumah dan memasang bendera.

“Ti tanggal 16 April 1955 keneh, semah teh geus jul jol. Jl Pajajaran geus ditutup. Teu meunang aya tutumpakan nu ngaliwat. Dijaga ku pulisi jeung CPM (Dari tanggal 16 April 1955, tamu-tamu sudah berdatangan. Jalan Pajajaran sudah ditutup. Tak boleh aya kendaraan yang lewat. Di jaga polisi dan CPM),” tulis Us Tiarsa R dalam bukunya, Basa Bandung Halimunan: Bandung Taun 1950-1960-an.

Orang dewasa hingga anak-anak berkerumun di tepi jalan.

“Mun geus kadenge sora sirine, bereyek jeleman teh ngangseg ka jalan. Harayang sidik kana rupa bangsa dengeun (Kalau terdengar suara sirine, orang-orang berhamburan ke tepi jalan. Mereka ingin melihat langsung para tamu dari bangsa/negara asing itu),” tutur Us.

Bandung seperti tengah pesta besar saat berlangsungnya konperensi.

“Jalma alabring-abringan, leuwih ti poean Lebaran (Orang-orang berjalan berbondong-bondong, lebih dari hari Lebaran),” kata Us.

Di kampung, warga yang memiliki radio tak ketinggalan. Us menyebutkan ada warga yang membawa radio ke halaman rumah dan menaruhnya di atas drum untuk didengarkan bersama warga lain saat Bung Karno berpidato membuka Konperensi Asia-Afrika.

Ramainya kedatangan para tamu atau delegasi juga ditulis koran berbahasa Belanda, Algemeen Indisch Dagblad De Preanger Bode terbitan 15 April 1955.

Koran itu menyebut kedatangan para tamu yang mendarat di Bandara Husein Sastranegara pada hari itu sebagai salah satu hari tersibuk dalam sejarah bandara tersebut. Selain delegasi, ratusan wartawan dari berbagai negara juga berdatangan untuk meliput.

“Jumlah wartawan yang akan meliput konperensi akan mendekati enam ratus, termasuk sekitar empat ratus wartawan asing,” tulis koran itu mengutip pernyataan kepala departemen pers Konperensi Asia Afrika Max Maramis.

Dibalik suksesnya penyelenggaraan Konperensi Asia Afrika puluhan tahun lalu, ada jasa-jasa para petugas lapangan yang membersihkan genangan air bocor Gedung Merdeka hingga menjaga keamanan.

Antusiasme warga Bandung pun menambah semarak pelaksanaan konperensi tersebut. Barangkali kisah-kisah kecil tersebut bisa mengangkat kembali Semangat Bandung yang dicetuskan para delegasi pada 1955.

Ya, di Bandung, ibukota Asia-Afrika, semangat itu tak boleh pudar demi kedamaian dunia di tengah-tengah konflik dan perang yang kembali menyeruak. Jalurdua.com mengutip Pikiran-Rakyat.com

Terbaru