Bahaya Rokok Mengancam, RSUD Bulukumba Pilih Jalur Edukasi

RSUD Bulukumba menggeser fokus pelayanan ke arah promotif dan preventif dengan menggencarkan edukasi bahaya rokok langsung di ruang tunggu Poli Paru.

Bahaya Rokok Mengancam, RSUD Bulukumba Pilih Jalur Edukasi
Foto: dokter spesialis paru, dr. Hamka, Sp.P, berdiri memberikan paparan klinis/JalurDua/
Bacakan Artikel

Jalurdua.com BULUKUMBA — Paradigma pelayanan kesehatan di hulu kini menjadi medan tempur baru bagi fasilitas kesehatan publik. Memanfaatkan momentum penuh sesak di ruang tunggu Poli Paru, RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba mengambil langkah tak biasa pada Senin (25/5/2026) dengan mengubah ruang antrean pasien menjadi panggung edukasi masif guna membedah bahaya rokok. Di tengah hilir mudik pasien, otoritas rumah sakit secara tegas mengumumkan pergeseran fokus pelayanan: tidak lagi sekadar mengobati penyakit di hilir, melainkan mencegatnya di hulu melalui penguatan program promotif dan preventif secara berkala.

Suasana ruang tunggu Poli Paru RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba pagi itu terasa berbeda. Lembar-lembar brosur dan alat peraga visual yang menampilkan anatomi organ tubuh yang rusak akibat nikotin berpindah tangan dari petugas medis ke jemari para pengunjung. Riuh rendah batuk penonton sesekali memotong pemaparan materi, menciptakan atmosfer realitas yang getir sekaligus relevan mengenai dampak nyata dari kepulan asap tembakau.

Di depan puluhan pasang mata pasien dan keluarga yang sedang mengantre, dokter spesialis paru, dr. Hamka, Sp.P, berdiri memberikan paparan klinis. Ia tidak sekadar membacakan teori, melainkan menguliti satu demi satu ribuan zat kimia beracun yang mengendap dalam setiap batang rokok yang dibakar. Fokusnya jelas: meruntuhkan persepsi keliru masyarakat yang selama ini menganggap dampak buruk tembakau hanya muncul dalam hitungan dekade ke depan.

“Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa dampak rokok tidak hanya dirasakan dalam jangka panjang, tetapi juga dapat muncul dalam waktu singkat seperti sesak napas, cepat lelah, batuk berkepanjangan, hingga penurunan daya tahan tubuh,” ujar dr. Hamka di hadapan para peserta yang menyimak dengan saksama.

Pernyataan ini menjadi antitayangan bagi kebiasaan mengabaikan gejala-gejala kecil harian yang sering kali dianggap angin lalu oleh para perokok aktif maupun mereka yang terpaksa menjadi perokok pasif di lingkungan domestik.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: