FPL Sulsel Gelar Lintas Merah Putih XIV, Bersihkan Sampah di Jalur Gunung Bawakaraeng

FPL Sulsel Gelar Lintas Merah Putih XIV, Bersihkan Sampah di Jalur Gunung Bawakaraeng
Bacakan Artikel

Di sinilah edukasi mengenai zero waste dan etika pendakian menjadi penting.

Pendaki bukan hanya dituntut membawa kembali sampah yang dihasilkan sendiri. Mereka juga disebut perlu memahami bahwa setiap barang yang dibawa ke kawasan gunung berpotensi meninggalkan jejak apabila tidak dikelola dengan baik.

Persoalan lingkungan di jalur pendakian pada akhirnya tidak hanya bergantung pada kegiatan bersih-bersih. Ia juga berkaitan dengan kebiasaan para pengunjung sebelum, selama, dan setelah melakukan perjalanan.

Dalam kegiatan Lintas Merah Putih XIV 2026, FPL Sulsel mencoba menyatukan kedua hal tersebut: aksi membersihkan jalur dan edukasi mengenai perilaku pendakian yang lebih bertanggung jawab.

Namun, bahan kegiatan belum menyertakan data mengenai jumlah atau jenis sampah yang berhasil dikumpulkan. Belum tersedia pula informasi mengenai bagaimana sampah hasil clean-up tersebut selanjutnya dikelola.

Karena itu, keberhasilan aksi tersebut dalam mengurangi persoalan sampah di kawasan Bawakaraeng belum dapat diukur secara kuantitatif berdasarkan informasi yang tersedia.

Yang terlihat jelas adalah adanya upaya untuk mengubah cara memandang pendakian: datang ke gunung tidak cukup hanya dengan menikmati perjalanan, tetapi juga dengan kesediaan merawat tempat yang dikunjungi.

Ketika gunung menjadi ruang perayaan

Pemandangan ribuan pendaki di Puncak Bawakaraeng pada Hari Kemerdekaan memperlihatkan bagaimana gunung telah menjadi salah satu ruang publik untuk merayakan momentum nasional.

Ada yang datang untuk mengikuti upacara, ada yang mengejar pengalaman pendakian, dan ada pula yang menjadikan perjalanan sebagai bagian dari aktivitas komunitas.

Keramaian tersebut membawa konsekuensi.

Semakin tinggi intensitas kunjungan, semakin penting pula kesadaran mengenai daya dukung kawasan dan etika berada di alam. Gunung bukan ruang yang dapat menerima semua aktivitas manusia tanpa konsekuensi.

Karena itu, pesan aksi minim jejak menjadi relevan jauh setelah kegiatan Lintas Merah Putih berakhir.

Aksi tersebut dapat menjadi pengingat bahwa menjaga gunung tidak cukup dilakukan ketika sampah sudah menumpuk. Tanggung jawab ekologis idealnya dimulai sejak seseorang memutuskan apa yang dibawa, bagaimana digunakan, dan apa yang dibawa kembali ketika meninggalkan kawasan.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: