Jaka Timbal

Jaka Timbal tidak lahir di Pulau Jawa, melainkan di Bulukumba. Entah pada abad ke berapa Jaka Timbal mulai muncul di jazirah selatan Pulau “Sule’bessi” atau Sulawesi atau Celebes kata orang bule.

Entah siapa yang pertama kali menciptakan istilah “Jaka Timbal”.Sependek pengetahuan saya, ia bukan idiom yang lazim. Namun ia sekali-sekali muncul sebagai penyegar obrolan dan candaan kaum muda terkait pembahasan seputar kawin-mawin.

Jaka Timbal adalah akronim dari “Janji Kawin Timo’-Bare’ Labe’si.” Perpaduan kata yang cukup unik antara Bahasa Indonesia dan Bugis.

Kata “Timo’-Bare” adalah dua frasa yang disatukan, artinya: “Kemarau-Hujan.” Menunjukkan dua musim. Sedangkan “Labe’si” artinya: “tenggelam” yang bersinonim dengan “hilang, musnah, raib.” Dengan demikian terjemahan bebasnya adalah: janji kawin yang tinggal janji seiring pergantian musim kemarau dan hujan.

Agaknya Jaka Timbal lebih sering digunakan sebagai bahan candaan oleh seseorang terhadap teman akrabnya. Dengan syarat khusus, temannya adalah seseorang yang masuk kategori playboy dan menebar janji manis kepada banyak gadis di mana-mana.

Ada pula yang kerap menggunakan istilah Jaka Timbal kepada temannya yang bukan playboy. Melainkan memang belum berniat menikah meskipun sudah mapan.

Pada era 90’an istilah Jaka Timbal sangat populer di radio, khususnya di Bulukumba. Ada kesan lucu bagi para pendengar radio setiap mendengarkan istilah itu diucapkan penyiar.

Jaka Timbal bisa jadi lahir dalam atmosfer ketidakberdayaan kaum muda yang sedang bergairah dalam cinta namun belum punya modal untuk berumahtangga. Jaka Timbal hanya bisa muncul di antara orang-orang yang sudah sangat akrab. Ia tidak bisa muncul begitu saja dalam situasi panas atau konflik. Sebab bisa memancing dunia persilatan. Bisa terjadi “baku tobok.”

Begitulah, Jaka Timbal adalah idiom yang menghibur dalam canda. Di lain sisi ia mencerminkan betapa kerasnya kehidupan, khususnya dunia asmara muda-mudi.

Kalau sudah mampu berumahtangga jangan kelamaan jadi Jaka Timbal. Itu saja.(*)

Pustaka RumPut, 29 Mei 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Index