Senin, September 26, 2022

Tetiba Pak Bupati Bulukumba ‘bagi-bagi THR’

Date:

Populer hari ini

La Baco

Bagi Belanda, tidak semua anak keturunan ningrat bisa diajak bekerjasama. Terbukti banyak tokoh pemuda terpelajar yang bergelar Andi yang kemudian memimpin gerakan menentang Belanda.

Manfaat Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 yang menimpa sebagian dunia telah memengaruhi aktivitas...

Tetiba Pak Bupati Bulukumba siap ‘bagi-bagi THR’.

Sontak saja, lebih tepatnya hanya sekejap, sebagian warganet dari masyarakat Bulukumba, Sulawesi Selatan bergembira.

Kegembiraan yang tidak berlangsung lama. Soalnya ternyata itu postingan akun palsu Facebook yang mengatasnamakan dirinya Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf.

Postingan itu persis tembakan artileri Ukraina berkapasitas kecil yang langsung dihajar dengan rudal berkapasitas lebih besar milik Rusia.

Baru beberapa jam diposting, unggahan akun palsu itu langsung dihajar oleh pernyataan resmi Pemkab Bulukumba bahwa postingan itu palsu.

Pikir-pikir, sebenarnya, bagus juga kalau Pak Bupati Bulukumba memang benar-benar bagi-bagi THR. Meskipun hanya untuk 20 orang warga Bulukumba.

Lebaran, entah sejak kapan, selalu diakrabi ‘dengan paksa’ atau pun sukarela dengan THR.

Tunjangan Hari Raya memang suka bertangkupan dengan orang-orang yang mengenal lebaran sejak kecil.

Manusia Indonesia, siapapun dia, bahkan jika bukan Muslim, akan selalu bergembira dengan lebaran.

Kemungkinan terbesarnya adalah karena lebaran juga identik bertautan dengan THR. Kawan yang non muslim bisa ikut bergembira karena kawannya yang Muslim bisa mentraktir di restoran setelah terima THR.

Serupa halnya dengan Muslim yang bergembira saat angpauw bertebaran, tidak peduli di tangan mana angpauw itu mendarat.

Indonesia adalah THR. Ya, kita membudayakannya. Yang kerap kita nantikan.

Meskipun kita tidak berhak mendapatkannya, kadang kita terbiasa berkata kepada teman yang dapat THR, “THR-nya dong!”

Sementara itu jauh di dasar hati, kita tega menyembunyikan rasa iba kepada sang kawan yang THR-nya sangat jauh dari espektasi untuk mencukupi kebutuhan keluarganya bulan ini.

THR-nya dong. Ucapan basa basi, bisa pula hanya candaan. Tapi candaan yang biasanya dibalas oleh kawan dengan perasaan tidak tegaan.

Maka jadilah THR yang sedianya untuk membeli baju koko buat anaknya di rumah tetiba beralih menjadi sepuluh mangkuk bakso misalnya di warung sana.***

Alfian Nawawi
Alfian Nawawihttp://jalurdua.com/
Kolumnis dan Editor JalurDua.Com

Terbaru