Krisis Iklim Mengintai, Indonesia Perkuat Aliansi Kehutanan Global
Kerja sama kehutanan Indonesia-Korea di Seoul menjadi strategi baru menghadapi kebakaran hutan dan ancaman El Nino 2026 dengan dukungan teknologi satelit dan kolaborasi global.
Dari Hutan Lestari hingga Pasar Karbon
Kerja sama ini tidak berhenti pada wacana. Ada sejumlah fokus konkret yang menjadi prioritas bersama. Pengelolaan hutan berkelanjutan menjadi pilar utama, termasuk rehabilitasi mangrove dan gambut yang selama ini rentan rusak.
Selain itu, pengembangan ekowisata dan perhutanan sosial juga menjadi bagian penting. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat lokal yang hidup di sekitar hutan.
Tak kalah penting, penguatan pasar karbon hutan menjadi langkah maju dalam ekonomi hijau. Indonesia melihat peluang besar dalam skema perdagangan karbon sebagai bagian dari solusi perubahan iklim global.
Belajar dari Korea
Dalam pertemuan tersebut, Menteri KFS menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra paling strategis. Bahkan, perwakilan kehutanan Korea di luar negeri hanya ditempatkan di Jakarta—sebuah sinyal kuat betapa pentingnya Indonesia.
Korea membawa pengalaman dan teknologi canggih. Saat ini, mereka mengoperasikan 55 helikopter pemadam kebakaran dengan dukungan 755 personel. Tidak berhenti di situ, sekitar 250 helikopter tambahan dan 10.000 personel dari berbagai unsur siap dikerahkan dalam situasi darurat.
- Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid
- WNI di Malaysia Diimbau Ikut Repatriasi Migran Sebelum Berakhir
- Mendes Yandri ke Bupati Gowa: Desa Wisata Jangan Jadi Penonton
- Desa Tematik Didorong, Bulukumba Siap Jadi Percontohan
- Mariorennu United Siap All Out Lawan Mentari FC
- Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid
- WNI di Malaysia Diimbau Ikut Repatriasi Migran Sebelum Berakhir
- Krisis Iklim Mengintai, Indonesia Perkuat Aliansi Kehutanan Global
- Mendes Yandri ke Bupati Gowa: Desa Wisata Jangan Jadi Penonton
- Desa Tematik Didorong, Bulukumba Siap Jadi Percontohan