Merajut Jembatan Aksi Iklim, Toraja Belajar Ketahanan Komunitas dari Desa ProKlim Bulukumba

Merajut Jembatan Aksi Iklim, Toraja Belajar Ketahanan Komunitas dari Desa ProKlim Bulukumba
Bacakan Artikel

Selain menyelami praktik ProKlim di Salassae, rombongan Yayasan MPM juga menyempatkan diri berkunjung ke kawasan adat Ammatoa Kajang di Desa Tana Toa. Di sana, mereka mendalami lebih jauh tentang kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga hutan dan lingkungan, sebuah nilai yang resonan dengan filosofi keberlanjutan di Salassae. Kedua kunjungan ini memperkaya perspektif Yayasan MPM tentang bagaimana tradisi dan inovasi dapat berpadu untuk menciptakan ketahanan ekologis.

Menutup sesi, Armin Salassa berharap kerja sama antara komunitas di Bulukumba dan Toraja dapat terus berlanjut.

"Isu iklim dan ketahanan pangan adalah persoalan kita bersama. Semakin banyak komunitas yang berbagi dan saling menguatkan, semakin tangguh kita menghadapi masa depan," ujarnya. Harapan itu menjadi undangan untuk terus merawat jembatan pengetahuan dan solidaritas antarkomunitas.

Kisah dari Salassae ini menjadi pengingat bahwa solusi iklim sejati seringkali berakar dari tanah dan tangan-tangan masyarakat lokal.

Mereka adalah penjaga pertama bumi, inovator yang tak terdokumentasi, namun dampaknya nyata. Mungkinkah semangat dan praktik serupa tumbuh subur di setiap lembang Toraja, di setiap desa di Indonesia, menjadi benteng kolektif kita menghadapi krisis iklim? Jawabannya ada pada kemauan kita untuk belajar, berbagi, dan bertindak bersama.

Pilih Halaman: