Pesan dari Kunang-Kunang dan Capung agar Kita Tidak Merusak Ekosistem

Pesan dari Kunang-Kunang dan Capung agar Kita Tidak Merusak Ekosistem
Bacakan Artikel

Jalurdua.com Klikhijau.com - Rawa-rawa bakau di tepi sungai Riau, belasan tahun silam, seketika melintas di ingatan saya. Saat kecil dulu, saban menyusuri sungai malam hari dengan pompon perahu bermesin diesel, saya kerap menyaksikan ribuan pendar cahaya di pucuk-pucuk pohon pedada.

Dari jauh, vegetasi pesisir itu tampak seperti pohon Natal raksasa yang dihiasi lampu kelap-kelip. Kala itu, saya menikmatinya dengan kepolosan khas anak-anak, tanpa menyadari bahwa apa yang saya saksikan adalah sebuah kemewahan ekologis yang kelak sukar dicari.

Sabtu, 3 Oktober 2026, kenangan tua itu mendadak menyeruak kembali di kawasan karst Pattunuang, kabupaten Maros, Sulawesi Selatam. Bersama tim KlikHijau, kami menggelar kegiatan evaluasi bulanan di luar kota. Sebagian rombongan mengendarai mobil, sementara saya dan lima rekan lainnya memilih menggunakan sepeda motor.

Perjalanan menembus terik musim kemarau menyisakan debu perkotaan yang menempel di kulit dan tubuh yang letih. Setibanya di kantor Resort Pattunuang, kami beristirahat sejenak menyeduh mie instan untuk mengumpulkan tenaga sebelum melintasi jalur setapak menuju kawasan hutan.

Rintangan fisik belum selesai. Barang bawaan kami cukup membebani pundak, bahkan saya dan seorang rekan harus bergantian memikul satu galon air penuh menembus vegetasi. Namun, begitu tenda berdiri saat senja mulai membayang, Direktur KlikHijau, Anis Kurniawan, memberi arahan untuk memulai eksplorasi flora dan fauna.

Eksplorasi sore itu dipandu langsung oleh Taufik Ismail, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda dari Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Kami menyusuri alur sungai berkerikil dan berbatu. Gemercik air mengiringi langkah kami, suara air yang menyaring saat melintasi celah dalam menjadi penanda alami agar kami mengecilkan langkah.

Meski kemarau membuat debit air menyurut tajam, kesegarannya tetap tak tergantikan saat saya basuh ke wajah. Di sepanjang alur, kehidupan berdenyut riuh, rumpun pandan, pohon aren, hingga lebah hutan yang hinggap di lumut basah.

Kupu-kupu dari famili Papilionidae tampak sibuk menghisap nektar bunga jambu air, sementara capung melintas anggun di atas permukaan batu.


Kejutan di Tebing Batu

Saat matahari benar-benar tenggelam dan kegelapan merayap rapat, kami berbalik menuju perkemahan. Di sebuah celah tebing batu yang terhalang jalan sempit, rombongan di depan mendadak berhenti. Pak Taufik memberi bisikan cepat, “Matikan senter,” singkatnya, bernada interuksi yang mesti segera dilakukan, agar tak melewatkan kesempatan.

Saya sempat bingung, sebelum akhirnya pandangan mata saya menyesuaikan diri dengan kegelapan. Di tebing batu tepat di atas kami, satu titik cahaya hijau-kekuningan terbang melayang pelan. Seekor kunang-kunang. Pendar biologisnya (bioluminescence) kecil saja, namun efeknya memukau. Semakin saya memperhatikan sudut-sudut gelap hutan, semakin saya menemukan satu titik terang yang langka.

“Selama sepuluh tahun bertugas di sini, baru kali ini saya melihat kunang-kunang,” unggkap Taufik, mengakui betapa momen itu telah Langkah, dengan Bahasa lain keberadaan kunang kunang membuat kami bertanya-tanya pula, apakah kunang-kunang telah menjadi spesies langkah dalam pengakuan formil?,

Pengalaman berharga itu menjadi bahan diskusi hangat seusai sholat Maghrib berjamaah dan makan malam bersama di area camp. Di bawah naungan kanopi hutan, diskusi penulisan yang juga dihadiri Redaktur senior Klikhijau, Idris Makkatutu bergulir interaktif. Salah satu mentor kami, Andi Fitrah Maulan, membuka obrolan mendalam tentang serangga nocturnal dari famili Lampyridae ini.

"Dahulu sekitar tahun 2010 atau 2011, kunang-kunang masih sangat mudah dijumpai di kampung halaman, di Pinrang," ujar Ita.

"Tapi masuk tahun 2013 ke atas, keberadaannya seperti lenyap. Apakah hewan ini musiman, atau populasinya memang tertekan?," sambungnya dengan pertanyaan yang membawa kita pada pengatan dan ingatan masing-masing. 

Pak Taufik mengangguk, tanda menyetujui fenomena penurunan tersebut. Beliau menegaskan bahwa malam itu kami tergolong sangat beruntung dapat menyaksikan kunang-kunang liar secara langsung. Anis Kurniawan menimpali, mengenang bagaimana serangga ini dahulu menjadi mainan masa kecil yang acap diselimuti mitos mistis, sebelum akhirnya ia pelajari secara biologis.

Penjaga dalam sunyi dan cermin kesehatan ekosistem

"Kunang-kunang adalah bioindikator alami. Kehadirannya mencerminkan tingkat kesehatan dan keasrian suatu ekosistem," jelas Anis.

Secara ilmiah, sensitivitas kunang-kunang terhadap polusi cahaya (light pollution) dan kerusakan substrat tanah, tempat larva mereka berburu siput kecil sangat tinggi. Pemukiman padat yang terang benderang oleh lampu artifisial mengganggu sinyal komunikasi cahaya yang mereka gunakan untuk kawin. Itulah sebabnya serangga ini menyingkir dari kawasan urban dan hanya bertahan di ceruk-ceruk hutan yang tenang seperti Pattunuang.

Tak hanya kunang-kunang, eksplorasi hari itu juga membukakan mata saya atas peran penting capung (ordo Odonata). Sepanjang malam di perkemahan, kami hampir tak merasakan gigitan nyamuk sama sekali. Pasalnya, capung berperan sebagai predator alami yang sangat agresif terhadap populasi nyamuk, bahkan mengontrol populasi mereka sendiri melalui kanibalisme biologis jika sumber makanan menipis.

Dua makhluk kecil yang sering diabaikan manusia ini nyatanya memikul fungsi ekologis yang vital. Capung bekerja menjaga kenyamanan kita dari jangkauan vektor penyakit, sementara pendar samar kunang-kunang bertindak sebagai 'pemeriksa kesehatan' lingkungan yang jujur. Kehadiran mereka di Pattunuang malam itu bukan sekadar hiasan hutan yang memanjakan mata, melainkan wujud kesetimbangan alam yang masih terjaga, sebuah pengingat bersahaja agar kita tak serakah mengusik habitat yang tersisa.