Singgah di Karts Pattunuang, Menemukan Banga Batu di Balik Benteng Batuan Purbakala

Singgah di Karts Pattunuang, Menemukan Banga Batu di Balik Benteng Batuan Purbakala
Bacakan Artikel

Jalurdua.com Klikhijau.com - Setelah terbiasa dengan lanskap perkotaan yang serba beton dan diselimuti debu tipis kendaraan, melintasi gerbang kawasan Sulawesi Selatan ini terasa seperti melintasi batas zaman. Kelelahan akibat jarak tempuh dan guncangan jalan seketika menguap begitu gugusan menara karst menjulang megah menyambut kami, memamerkan keasrian alam yang rindang dan udara basah yang menyejukkan.

Sabtu pagi, 3 Oktober 2026, perjalanan membawa rombongan kami, tim magang, mahasiswa dari Sosiologi Universitas Negeri Makassar dan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) beserta tim KlikHijau meninggalkan riuk kota menuju Pattunuang, Desa Semangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

Setibanya di Lokasi, langkah kaki membawa kami mengeksplorasi vegetasi di sekitar Bisseang Labboro, tak jauh dari area perkemahan. Di tengah lebatnya dedaunan, mata saya terhenti pada satu pemandangan tunggal yang mencolok.

Berbeda dari jajaran vegetasi sekitarnya, tumbuhan ini berdiri menyendiri, sepanjang pengamatan, hanya satu spesimen yang berhasil kami temukan.

Seketika muncul rasa penasaran yang jujur, bentuknya yang menyerupai pohon palem berbatang jangkal namun berdaun mirip pandan langsung memicu kepolosan saya untuk bertanya. Tumbuhan apa sebenarnya yang sanggup bertahan anggun di celah batuan kaku ini?.

"Masyarakat lokal menyebutnya banga batu, atau pandan hutan. Nama ilmiahnya Dracaena multiflora dari famili Asparagaceae," ujar Pak Taufik Ismail, petugas Pengendali Ekosistem Hutan dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang mendampingi ekspedisi kami.

Ia menjelaskan bahwa Dracaena multiflora tumbuh secara alami tanpa campur tangan budidaya manusia. Tumbuhan ini memiliki daya tahan ekologis luar biasa karena sanggup melintasi pergantian dua musim ekstrem, kemarau dan penghujan dengan beradaptasi pada variasi substrat mulai dari tanah humus, celah bebatuan cadas, hingga kawasan yang berdekatan dengan tepian sungai.

Dari penelusuran literatur ekologi kawasan Wallacea, Dracaena multiflora memang dikenal sebagai spesies endemik yang tangguh di ekosistem batu kapur. Secara morfologi, batangnya dapat tumbuh tinggi menjulang hingga sekitar 10 meter dengan tekstur sedikit kasar bermotif tajam. Daunnya memanjang, kaku, bertekstur agak keras, serta berwarna hijau tua pekat.

Uniknya, meski menyandang nama lokal pandan hutan, ia sama sekali tidak memiliki aroma wangi khas layaknya pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) yang kerap kita gunakan sebagai bahan penyedap masakan di dapur atau dibuat ketupat.

Lanskap karst Pattunuang memberikan kejutan tersendiri dalam menyembunyikan keanekaragaman hayatinya. Tegakan tebing kapur di Maros terjal dan tinggi membumbung, membuat banga batu terkadang sulit teramati dari bawah jika ia bertengger di celah tebing atas.

Taufik sempat membandingkannya dengan karakter lanskap karst di Kabupaten Pangkep yang cenderung lebih rendah, di mana tajuk banga batu jauh lebih mudah terlihat oleh mata telanjang. 

Keunikan lain terkuak saat mengamatinya lebih dekat, batangnya tampak sulur vanili (Vanilla planifolia) tumbuh merambat dan menempel erat pada batang banga batu. Temuan symbiotik ini memperlihatkan bagaimana banga batu berperan penting sebagai pohon inang (penopang) bagi tumbuhan merambat di habitatnya.

Kehadiran banga batu tak hanya menjadi pilar penyeimbang ekosistem, tetapi juga menyimpan keterikatan erat dengan kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan Bantimurung Bulusaraung.

Daunnya yang seratnya kuat dan lentur bisa dimanfaatkan oleh warga lokal sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) untuk dianyam menjadi kerajinan tangan seperti tikar, tas, keranjang, hingga topi tradisional. Interaksi ini memperlihatkan harmoni alami antara kebutuhan hidup manusia dan vegetasi hutan liar.

Perjalanan singkat di Pattunuang menyisakan perenungan mendalam. Banga batu yang tumbuh menyendiri di antara himpitan batu purba bukan sekadar hiasan hijau penjelas keasrian hutan karst Maros.

Ia adalah penyangga kehidupan, rumah bagi spesies lain, sekaligus penyedia bahan kehidupan bagi warga di sekitarnya. Mengambil manfaat dari alam adalah bagian dari peradaban, namun membiarkannya tetap tumbuh liar dan lestari di habitat aslinya adalah penanda kedewasaan kita dalam berinteraksi dengan bumi.