Akkaleng Pulanduk

Barangkali hanya kancil satu-satunya tokoh fabel kita yang protagonis sekaligus antagonis. Si Kancil telanjur dinobatkan sebagai seekor tokoh hewan yang cerdik cendekia. Dongeng-dongeng Melayu kuno menempatkan Si Kancil selaku sentra pemikiran brilian dalam menghadapi situasi sesulit apa pun.

Si Kancil memang jenius namun juga kadang nakal dan usil. Namun rekam jejak Si Kancil tidak selamanya dielu-elukan sebagaimana kepahlawanannya memperdayai sekawanan buaya dan seekor harimau.Buktinya Si Kancil pernah juga memerankan tokoh jahat. Kita pasti ingat cerita peristiwa pencurian timun milik Pak Tani. Seluruh warga hutan juga tahu bahwa Si Kancil pelakunya.

Meskipun cukup kontroversial dalam beberapa kisah, toh ketokohan Si Kancil di bidang akal bulus tetap mengakibatkan para penghuni hutan memuja-mujanya sebagai hero, pemikir ulung, dan jagoan tak tergantikan.

Istilah “akkaleng pulanduk” membuktikan bahwa Si Kancil juga pernah menjelajahi “rimba raya folklore” di Pulau Sulawesi. Begitulah, agaknya cerita rakyat petualangan Si Kancil memiliki begitu banyak versi.

Dalam Bahasa Bugis, kata “akkaleng” artinya “akal” lebih merujuk pada “kecerdikan” bahkan “akal bulus.” Sedangkan “pulanduk” atau “pulandok” untuk menyebut hewan bernama “kancil.” Kemungkinan kata “pulanduk” berasal dari akar kata “pelanduk” dalam Bahasa Melayu.

Entah bagaimana awalnya, dalam perkembangannya, di ruang sosial masyarakat etnis Bugis Makassar kata “akkaleng pulanduk” justru kerap ditujukan kepada oknum-oknum antagonis. Semisal jika di sebuah pasar ada penjual yang culas, biasanya langsung terlontar ucapan “Dasar akkaleng pulanduk!”

Di masa pandemi covid-19, pedagang yang menimbun masker lalu menjualnya dengan harga tinggi lantas dituding “bisnisman akkaleng pulanduk!”

Cerita konyol seputar akkaleng pulanduk yang diperankan manusia pun biasa terjadi di dunia nyata. Ada sepotong cerita menggelikan dalam sebuah acara reuni alumni sebuah SMA.

Sebut saja namanya Bang Kuki. Dia alumni yang paling dituakan dan dikenal paling doyan bubur ayam. Karena diprediksi Bang Kuki pasti datang maka salah satu menu andalan yang disiapkan panitia adalah bubur ayam. Dasar Bang Kuki banyak akalnya. Ketika teman-temannya menyerbu bubur ayam, tiba-tiba Bang Kuki berteriak, “Tunggu, “isi buku” (gigi palsu) saya jatuh ke dalam bubur ayam!” Sontak para penyerbu bubur ayam langsung menjauh. Sebagian bahkan merasa mau muntah. Tinggallah Bang Kuki menikmati bubur ayam seorang diri. Bang Kuki akkaleng pulanduk!(*)

Pustaka RumPut, 30 Mei 2020

3 KOMENTAR

  1. Wow that was odd. I just wrote an very long comment but after I
    clicked submit my comment didn’t show up. Grrrr…

    well I’m not writing all that over again. Anyways, just wanted to
    say superb blog!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Index