Jalurdua.com mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional Indonesia 9 Februari 2024

Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Website Dinsos Padangsidimpuan & Salak Manis Berdahan Tidak Bisa Diakses : Dedi Saputra “Mungkin Hostingnya Belum Dibayar”

Website resmi Dinas Sosial Kota Padangsidimpuan (https://dinassosial.padangsidimpuankota.go.id) dan Salak Manis Berdahan (https://dinassosial.padangsidimpuankota.go.id/layanan) tidak bisa diakses sejak pagi tadi, hal itu diketahui karena di...
BerandaHeadlineBersilaturahmi Mempermudah Masuk Surga

Bersilaturahmi Mempermudah Masuk Surga

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya lafaz rahim itu berakar dari lafaz ar Rahmaan; maka Allah Swt berfirman, “Barang siapa yang menghubungkan mu, Aku menghubungkan diri pula dengannya, dan barang siapa memutuskanmu, Aku memutuskan diri pula dengannya.” (HR. Bukhari)
Yang dimaksud dengan rahim ialah hubungan silaturahmi atau hubungan persaudaraan. Dapat disimpulkan dari makna hadits ini bahwa menghubungkan tali silaturahmi hukumnya wajib dan memutuskannya hukumnya haram.

Ketika Allah menciptakan rahim maka rahim bergantung di bawah ‘Arasy seraya berdoa, “Ini adalah tempat (kedudukan) orang yang memohon perlindungan kepada-Mu.” Maka Allah Swt. berfirman kepadanya, “Barang siapa yang menghubungkanmu maka Aku mau berhubungan dengannya, dan barang siapa yang memutuskanmu, maka Aku memutuskan hubungan dengannya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Hamba Allah mana pun yang mengunjungi teman seimannya, maka diserukan kepadanya, “Alangkah baiknya engkau, dan berbahagialah surga bagimu.” Dan Allah Swt. berfirman, “Hamba-Ku telah mengunjungi-Ku, maka Aku harus menjamunya, dan Aku masih belum puas sebelum menjamunya dengan jamuan surga.” (HR. Ibnu Abud Dunya melalui Anas r.a.).

Yang dimaksud dengan ziarah atau berkunjung dalam hadits ini ialah dalam rangka bersilaturahmi dan bukan untuk tujuan lain. Yang dimaksud dengan pengertian Fillahi ialah saudara yang hubungannya terjalin karena Allah dan bukan karena faktor lainnya, seperti yang dijelaskan oleh hadits lain yang mengatakan, “Ada tujuh macam orang kelak (di hari kiamat) yang akan dapat naungan dari Allah pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, antara lain ialah dua orang lelaki yang saling mengasihi karena Allah, keduanya bertemu dan berpisah karena Allah.

Drs.H Karsidi Diningrat M.Ag,

Pantas lah bila dalam hadits ini dikatakan demikian, yaitu mendapat penghormatan dari Allah Swt karena ia berkunjung kepada saudaranya itu hanyalah semata-mata karena Allah. Seakan-akan ia bertamu kepada Allah, dan Allah pun membalas hormat nya. Allah berfirman, “Hamba-Ku berkunjung kepada-Ku, dan Aku menghormatinya. Aku tidak rela menghormati hamba-Ku yang berbuat demikian kecuali dengan surga.”

Nabi Saw telah bersabda, “Ada empat perkara berupa tabungan di surga, yaitu, “menyamarkan sedekah, menyembunyikan musibah, silaturahmi, dan ucapan, “Laa haula walaa quwwata illaa billah” (Tiada daya dan tiada upaya kecuali berkat pertolongan Allah).” (HR. al-Khathib melalui Ali k.w.).

Lafaz Kanzul Jannah, perbendaharaan surga. Makna yang dimaksud ialah pahala tabungan yang tersimpan di dalam surga. Barang siapa yang mengerjakan salah satu di antara keempat perkara itu, berarti ia menabung untuk kepentingan hari kemudiannya, terlebih lagi apabila keempat-empat nya kita kerjakan, maka pahala yang ditabungnya di surga makin bertambah besar, yang salah satunya adalah diperintahkannya bersilaturahmi.

Dalam hadits lain beliau Saw. telah bersabda, “Berbicaralah dengan baik, sebarkanlah salam, dan hubungkanlah silaturahmi, serta salatlah di malam hari ketika orang-orang sedang tidur maka kamu akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Hibban melalui Abu Hurairah r.a.).

Barang siapa yang menginginkan masuk surga dengan selamat, maka hendaknya ia berbicara dengan baik, sebarkan salam, bersilaturahmilah kepada orang yang memutuskannya, dan salatlah selalu di tengah malam ketika orang-orang sedang lelap dalam tidurnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Keutamaan yang paling afdhal ialah menghubungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya darimu, memberi kepada yang tidak mau memberi kepadamu dan kamu memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadap dirimu.” (HR. Imam Thabrani melalui Mu’adz r.a.).

Setiap amal kebajikan itu pahalanya disesuaikan dengan berat dan ringannya kualitas kebajikan tersebut. Apabila amal kebaikan berat pelaksanaannya, maka semakin besar pahala pelakunya. Menghubungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya merupakan hal yang sulit, memberi orang yang tidak mau memberi berat rasanya, dan memaafkan orang yang pernah berbuat aniaya sukar untuk dilakukan. Ketiga hal tersebut berat sekali pengamalannya. Oleh karena itu, maka dalam hadits ini disebutkan sebagai amal yang paling utama.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. telah bersabda, “Bersilaturahmilah kepada orang yang memutuskanmu; berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu; dan katakanlah yang hak sekalipun terhadap dirimu sendiri.” (HR. Ibnun Najjar).

Semua yang disebutkan dalam hadits ini berat-berat pelaksanaannya, karena itu pahalanya pun besar sesuai dengan jenis amalnya. Menjalin hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya darimu memerlukan kesabaran dan kebijaksanaan, begitu pula bersikap baik terhadap orang yang berbuat jahat terhadap diri kita. Akan tetapi, yang paling berat di antara semuanya itu ialah menegakkan kebenaran terhadap diri sendiri.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Silaturahmi, berakhlak baik, dan baik dalam bertetangga, dapat meramaikan perkampungan dan dapat menambah umur.” (HR. Ahmad).

Bersilaturahmi, berakhlak yang baik dan hidup rukun dengan para tetangga dapat meramaikan suasana bermasyarakat dan merukunkan kehidupannya serta lebih mempererat jalinan persaudaraan dan juga dapat menambah usia orang-orang yang bersangkutan.

Dalam* hadits yang lain beliau Saw telah bersabda, “Tercatat di dalam kitab Taurat, “Barang siapa menghendaki diperpanjang umurnya, dan ditambah rezekinya, maka hendaknya ia menghubungkan silaturahmi.” (HR. Hakim melalui Ibnu Abbas r.a.).

Syariat umat terdahulu dijadikan pula sebagai syariat kita selama tidak ada yang memansukhnya, dan di antara ayat-ayat kitab Taurat yang tidak di mansukh ialah ayat yang mengatakan, “Barang siapa yang menghendaki agar umurnya bertambah panjang, dan rezekinya bertambah banyak, maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.”

Juga dalam hadits yang lain beliau Saw telah bersabda, “Barang siapa menghendaki diluaskan rezekinya dan diperpanjang umurnya, maka hendaknya ia menghubungkan silaturahmi.” (HR. Bukhari).

Dengan bersilaturahmi dapat menyebabkan pelakunya diperluas rezekinya dan diperpanjang umurnya. Wallahu A’lam bish-Shawabi.
Karsidi Diningrat
*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
*Anggota PB Al Washliyah Jakarta
*Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat