Lebaran Pernah Tak Berdaun Pandan

  • Whatsapp
banner 300600

Jika lebaran adalah kepulangan yang meriah maka ia memang dirayakan penuh oleh segala partikel semesta. Banyak hati yang mewangi -karena libur lagi- dan sudah tentu musim makanan. Para penjahat pun boleh berlebaran. Hanya pada lebaran semua profesi dan tabiat harus terlibat. Saling bermaafan dan makan-makan.

Orang-orang jauh yang sebelumnya tidak pernah kelihatan akan datang dengan terencana. Bertangkupan dengan pekuburan adalah destinasi spiritual. Maka berziarah adalah perjalanan menenteng do’a-do’a. Lalu irisan-irisan kecil daun pandan bersama bebungaan pilihan menandai setiap makam. Itulah sebabnya sebagian besar manusia nusantara sangat menantikan lebaran. Tidak sekadar untuk jabat tangan.

Bacaan Lainnya

banner 300600

Barangkali hanya pada lebaran kita memahami makna kangen yang kolektif. Padahal nominalnya cuma sekali sampai dua kali setahun. Pertemuan tahunan antara orang-orang yang masih hidup dan yang sudah berpulang itulah yang dihiasi daun pandan. Di meja makan ia membungkus ketupat. Di atas kuburan dianggap setara do’a.

Tumbuhan monokotil dari keluarga pandanaceae itu aromanya wangi. Ia komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan beberapa negara lain di Asia Tenggara.

Akarnya besar. Memiliki akar tunggang yang menopang tumbuhan ini bila telah cukup besar. Daunnya memanjang seperti daun palem dan tersusun apik.

Salah satu tradisi tertua itu adalah menebar bunga dan irisan daun pandan di atas kuburan. Dalam kitab Mughni Al-Muhtaj, dijelaskan oleh Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbini bahwa disunnahkan menaruh pelepah kurma hijau atau masih basah di atas kuburan. Begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah. Tidak boleh siapapun mengambilnya dari atas kuburan sebelum masa keringnya.

Daun pandan di Asia Tenggara rupanya memenuhi syarat sebagai pengganti pelepah kurma. Kitab Mughni Al-Muhtaj menerangkan haditsnya. Tentang sekali waktu Rasulullah SAW mengambil pelepah kurma yang basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Lalu menancapkan masing-masing satu belahan pada dua kuburan. Para sahabat bertanya: “Kenapa engkau lakukan itu wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Supaya dengan perantara pelepah kurma tersebut, kedua mayit itu diringankan dari siksa selama kedua belahan pelepah kurma itu belum kering.”

Pos terkait

banner 300600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.