Saya Orang Pertama Yang Akan Mengobok-Obok Kantor Bupati

  • Whatsapp
banner 300600

“Keluarga Saorajae adalah garda terdepan dalam mendukung pasangan Kacamatayya. Apabila pasangan ini tidak memperhatikan rakyat, maka saya orang pertama yang mengobok-obok Kantor Bupati.”

Bukan saja mengejahwantahkan sebuah sikap dukungan secara pribadi namun juga di sana terdapat frasa yang mewakili sebuah kekuatan yang harus diperhitungkan, Saorajae. Menyebut Saorajae berarti harus menyebut Gantarang. Di sana pun terdapat semacam “warning” kepada pihak yang didukung manakala sebuah amanah disalahgunakan. Lantaran sebuah dukungan politik tentu berangkat dari sebuah proses panjang dan tidak mudah terwujud begitu saja.

Bacaan Lainnya

banner 300600

Dalam geopolitik nasional, kita kenal sebuah adagium yang berbunyi: siapa yang menguasai Pulau Jawa maka dia menguasai Indonesia. Maka dalam level Bulukumba bunyinya adalah: siapa yang menguasai Gantarang maka dia menguasai Bulukumba.

Suara seraknya yang khas namun menebar aura kewibawaan melontarkan kalimat dukungan yang monumental itu. Ia bertutur secara terbuka, apa adanya, dan tidak sungkan mengumumkan dukungan dan mendoakan kemenangan Pasangan Kacamatayya (TSY-AM) pada pilkada 2020.

Momen itu menjadi begitu penting pada suatu hari di Gantarang, bersama Tomy Satria Yulianto (TSY) dan putranya, A. Aan, Anggota DPRD Provinsi Sulsel. Ada poin khusus dan menarik dalam paparan tersebut di acara Sosialisasi Perda tentang Gender.

Sosok tokoh Bulukumba sekaliber AM Sukri A. Sappewali yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Bulukumba, bagi semua kubu petarung di Pilkada, arah dukungannya di Pilkada 2020 memang sangat menarik untuk dicermati.

Bagi sebagian besar masyarakat Bulukumba, titahnya begitu lama dinanti terkait kemana arah dukungannya dilabuhkan. Ia ibarat “Sang Begawan” khususnya dalam ruang dinamika politik di Kabupaten Bulukumba.

Peta geopolitik dalam lokalitas Bumi Panritalopi sangat mustahil bisa dibicarakan tanpa menggamit perbincangan soal kekuatan besar jumlah pemilih. Dan kekuatan jumlah pemilih terbesar ada di Kecamatan Gantarang. Dari sudut kultur dan karakter masyarakatnya, sejarah selalu mencatat mereka senantiasa solid.

Begitulah hingga nyaris semua bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Bulukumba menjadikan wilayah Gantarang sebagai primadona untuk meraih simpati pemilih. Dan kuncinya adalah para publik figur dari wilayah itu yang selama ini menjadi tempat bagi masyarakat di sana menautkan loyalitas dan soliditas.

Sebagai seorang politisi kawakan, ia dinilai memilik  insting politik yang tajam. Sekali waktu kekalahan pernah menderanya dalam pilkada. Namun ternyata itu membuatnya bangkit dan membawa periode keemasan keluarga besar Saorajae.

Sang Begawan telah melabuhkan dukungan. Dan keluarga besar Saorajae sepakat menjadi garda terdepan. Sangat menarik mencermati pertarungan ini. Lantaran pilkada adalah juga kalkulasi pada angka-angka. Namun apakah serta merta pertarungan sudah bisa dianggap selesai? Lantaran saat ini Gantarang sudah bisa disebut sebagai basis Kacamatayya? Tentu saja masih begitu prematur untuk menyimpulkannya.

Di luar Gantarang, pertarungan memperebutkan wilayah “primadona” lainnya seperti Kecamatan Ujung Bulu dan Wilayah Timur sedang berlangsung “sangat keras.” Tak kalah kerasnya, dan paling unik, pertarungan sedang merambah wilayah Kecamatan Rilau Ale dan Bulukumpa. Di sana, Kacamatayya sedang “derby” dengan Harapan Baru.

Jika salah satu kubu dalam palagan pilkada telah dipastikan memeluk dan dipeluk oleh kekuatan yang sangat diperhitungkan dalam soal angka, maka otomatis kubu lainnya, secara alamiah maupun strategi internal akan segera menggarap pemilih dari ragam tipologi. Di luar dari tipologi pemilih yang memiliki kecenderungan ikatan emosional dan soliditas yang bertumpu pada figur yang diikuti titahnya.

Ada berbagai tipologi yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi calon pemilih. Firmanzah dalam Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (2012: 113) membaginya dalam dua dimensi besar untuk memahami ini, yakni pemilih berorientasi policy-problem-solving (selanjutnya disebut orientasi kebijakan) dan orientasi ideologi.

Secara sederhana, pemilih yang berorientasi kebijakan akan menggunakan beberapa catatan kinerja dan reputasi calon yang akan dipilihnya. Sedangkan pemilih yang berlandaskan pada orientasi ideologi lebih mengedepankan akan kesamaan pemikiran maupun latar belakang antara pemilih dengan calon yang akan dipilih.

Ada beberapa faktor determinan yang menyebabkan hal itu terjadi, yang pertama merupakan latar belakang pemilih. Ini menyangkut juga dengan pendidikan yang bisa diakses, kemampuan ekonomi, sampai kehidupan keluarga maupun masyarakat pemilih. Sekalipun media massa juga punya pengaruh besar, akan tetapi dalam beberapa level sosial masyarakat hal ini tidak bisa digeneralisasi bisa cukup mempengaruhi ke semua aspek.

Hari-hari ini menjelang Desember 2020, banyak energi yang terkuras. Ada yang sedang mencari basis baru, ada pula yang sedang mempertahankan basisnya. Dan hanya satu hal yang bisa menjaga masyarakat Bulukumba dari konflik horisontal maupun vertikal sebagai ekses dari pilkada, yakni tetap saling menjaga. Pulang kembali ke dalam ruang kearifan lokal: sipakatau, sipakalebbi, sipakainge. Bersama kawan maupun lawan. Bahasa sederhananya berbunyi: “siapa pun jagoannya, ngopinya harus tetap bareng.”(*)




Pos terkait

banner 300600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.