Ancaman Kekeringan April, Ini Cara Kementan Hadapi El Nino Ekstrem di Indonesia

Kementan siaga hadapi El Nino ekstrem mulai April. Strategi pompanisasi dan mitigasi jadi kunci menjaga produksi pangan nasional.

Ancaman Kekeringan April, Ini Cara Kementan Hadapi El Nino Ekstrem di Indonesia
Foto: pemerintah memperkuat langkah mitigasi dengan menitikberatkan pada kecepatan intervensi, optimalisasi sarana prasarana, serta kesiapan petani dalam memanfaatkan bantuan yang telah disalurkan/pertanian.go.id/JalurDua/
Bacakan Artikel

JALURDUA JAKARTA - Hembusan angin terasa lebih kering dari biasanya ketika Sumarno menatap sawahnya yang mulai retak di pinggiran Karawang. Tanah yang seharusnya lembap itu perlahan kehilangan napas, seakan memberi isyarat bahwa musim tak lagi bisa ditebak. Di kejauhan, suara mesin pompa air terdengar berdenyut—ritme baru yang kini menjadi harapan petani menghadapi ancaman El Nino ekstrem yang kembali menghantui Indonesia.

Bayang-Bayang El Nino Ekstrem dan Kecemasan Petani

Memasuki April, isu El Nino ekstrem bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas. Ia menjelma menjadi kecemasan nyata yang dirasakan petani di berbagai daerah. Kementerian Pertanian (Kementan) pun tak tinggal diam. Belajar dari pengalaman pahit sekaligus berharga pada 2023, pemerintah kini bergerak lebih cepat, lebih terstruktur, dan lebih teknis dalam menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu produksi pangan nasional.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, menegaskan bahwa pendekatan kali ini tidak hanya berbasis perencanaan administratif, melainkan kesiapan nyata di lapangan. Dalam konteks ketahanan pangan Indonesia, langkah ini menjadi krusial mengingat sektor pertanian masih sangat bergantung pada stabilitas iklim.

“Pemerintah sejak 2023 hingga 2025 telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia. Ini adalah aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi kekeringan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar data statistik. Di lapangan, ribuan pompa itu kini menjadi “nyawa kedua” bagi sawah-sawah yang terancam kering. Namun, tantangannya bukan hanya soal ketersediaan alat, melainkan bagaimana petani mampu mengelola dan mengoptimalkannya secara kolektif.

Strategi Kementan: Dari Pompanisasi hingga Manajemen Air

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: