Bundu-Bundu

Siapakah pemilik atau pewaris kebangkitan nasional? Rasanya, jawabannya untuk skala lingkungan tempat saya bermukim saat ini yaitu bundu-bundu. Ia memenuhi syarat yang cukup sebagai jawaban temporer.

Banyak jenis usaha yang masih tegar bertahan di tengah pandemi covid-19. Namun tidak ada yang sedahsyat pola pertahanan bundu-bundu. Mulai pelosok pedalaman sampai gang sempit di kota besar, bundu-bundu masih saja perkasa di tengah badai.

Bundu-bundu adalah sebuah istilah yang begitu membumi dalam Bahasa Bugis yang artinya warung. Biasanya merupakan usaha kecil milik keluarga yang berbentuk kedai, kios, toko kecil, atau rumah makan sederhana. Warung adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan keseharian rakyat Indonesia. Para pakar ekonomi memasukkannya dalam kategori UMKM.

Bundu-bundu bertahan di tengah pandemi lantaran menjadi penyuplai kebutuhan konsumen di lingkungan sekitarnya. Ia identik dengan “garoppo” alias makanan ringan untuk anak kecil. Selain itu juga dilengkapi ragam kudapan, permen, rokok, dan berbagai macam barang-barang keperluan sehari-hari. Bundu-bundu adalah simbol kehebatan ekonomi rakyat. Dia simbol ketangguhan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan ekonomi.

Dalam pertemuan Gerakan Non Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia, September 1961, Bung Karno berbagi pendapat mengenai pengertian kemerdekaan. Menurut Bung Karno, kemerdekaan berarti mengakhiri penghisapan bangsa atas bangsa, yang langsung maupun tidak langsung. Hanya dengan kemerdekaan itu, kita punya kebebasan untuk menjalankan urusan-urusan ekonomi, politik, dan sosial budaya sesuai konsepsi nasional kita.

Penjelasan Bung Karno secara gamblang membabat argumentasi segelintir orang termasuk di kalangan elite Indonesia bahwa kemerdekaan hanya dimaknai dengan menghilangnya kolonialisme secara fisik. Bagi mereka, perjuangan kemerdekaan sudah selesai dengan adanya pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.

Di benak Bung Karno, sekalipun sebuah bangsa sudah memproklamirkan kemerdekaan, bentuk-bentuk kolonialisme lama masih bercokol. Kolonialisme lama, dengan menggunakan jubahnya yang baru, yakni neo-kolonialisme, akan terus menjaga kepentingan-kepentingannya di bekas negara jajahan.

25 KOMENTAR

  1. I have been exploring for a little for any high quality articles or weblog posts on this kind of house
    . Exploring in Yahoo I finally stumbled upon this website.
    Studying this info So i am glad to exhibit that I’ve an incredibly excellent uncanny feeling I found out
    exactly what I needed. I such a lot surely will make sure to do not omit this website and provides it a look on a relentless
    basis. scoliosis surgery https://coub.com/stories/962966-scoliosis-surgery scoliosis
    surgery

  2. I like the valuable information you provide in your articles.
    I will bookmark your weblog and take a look at once more
    here frequently. I am quite certain I’ll be informed lots of new
    stuff proper right here! Good luck for the following! scoliosis surgery https://0401mm.tumblr.com/ scoliosis surgery

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Index