Selasa, Mei 26, 2020

Bundu-Bundu

Siapakah pemilik atau pewaris kebangkitan nasional? Rasanya, jawabannya untuk skala lingkungan tempat saya bermukim saat ini yaitu bundu-bundu. Ia memenuhi syarat yang cukup sebagai jawaban temporer.

Banyak jenis usaha yang masih tegar bertahan di tengah pandemi covid-19. Namun tidak ada yang sedahsyat pola pertahanan bundu-bundu. Mulai pelosok pedalaman sampai gang sempit di kota besar, bundu-bundu masih saja perkasa di tengah badai.

Bundu-bundu adalah sebuah istilah yang begitu membumi dalam Bahasa Bugis yang artinya warung. Biasanya merupakan usaha kecil milik keluarga yang berbentuk kedai, kios, toko kecil, atau rumah makan sederhana. Warung adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan keseharian rakyat Indonesia. Para pakar ekonomi memasukkannya dalam kategori UMKM.

Bundu-bundu bertahan di tengah pandemi lantaran menjadi penyuplai kebutuhan konsumen di lingkungan sekitarnya. Ia identik dengan “garoppo” alias makanan ringan untuk anak kecil. Selain itu juga dilengkapi ragam kudapan, permen, rokok, dan berbagai macam barang-barang keperluan sehari-hari. Bundu-bundu adalah simbol kehebatan ekonomi rakyat. Dia simbol ketangguhan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan ekonomi.

Dalam pertemuan Gerakan Non Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia, September 1961, Bung Karno berbagi pendapat mengenai pengertian kemerdekaan. Menurut Bung Karno, kemerdekaan berarti mengakhiri penghisapan bangsa atas bangsa, yang langsung maupun tidak langsung. Hanya dengan kemerdekaan itu, kita punya kebebasan untuk menjalankan urusan-urusan ekonomi, politik, dan sosial budaya sesuai konsepsi nasional kita.

Penjelasan Bung Karno secara gamblang membabat argumentasi segelintir orang termasuk di kalangan elite Indonesia bahwa kemerdekaan hanya dimaknai dengan menghilangnya kolonialisme secara fisik. Bagi mereka, perjuangan kemerdekaan sudah selesai dengan adanya pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.

Di benak Bung Karno, sekalipun sebuah bangsa sudah memproklamirkan kemerdekaan, bentuk-bentuk kolonialisme lama masih bercokol. Kolonialisme lama, dengan menggunakan jubahnya yang baru, yakni neo-kolonialisme, akan terus menjaga kepentingan-kepentingannya di bekas negara jajahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Index

Peduli Pandemi, Pemuda Sarajoko Bagi Paket Lebaran di Ballasaraja

"Yang kami salurkan hari ini sebagai wujud kepedulian kita bersama. Apa yang kita lakukan bukanlah apa-apa. Hanya kita sama peduli di tengah pandemi.

Bundu-Bundu

Bagi Bung Karno, dekolonialisasi adalah pembongkaran terhadap semua struktur ekonomi, politik, dan sosial budaya yang merintangi kemerdekaan.

Burasa Virtual Terbungkus Papparampa

"Papparampa adalah moral budaya leluhur yang layak dilestarikan untuk memupuk rasa 'asselessurengeng' atau ukhuwah atau persaudaraan."

Andi Mappasomba Menarik Pelatuk

Dia sedang mengimbau agar para netizen Bulukumba mau belajar memproduksi narasi-narasi cerdas dan elegan terkhusus seputar pemilukada.