Cara Komunitas hingga Pemuda, Bergerak Bergerak Bersama Mengurai Sampah di Kota Makassar

Cara Komunitas hingga Pemuda, Bergerak Bergerak Bersama Mengurai Sampah di Kota Makassar
Bacakan Artikel

Jalurdua.com Klikhijau.com - Sampah masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang dihadapi Kota Makassar. Sampah yang dibuang sembarangan dan masih bercampur berdasarkan jenisnya membuat pengelolaannya menjadi tidak mudah. Karena itu, kesadaran masyarakat, komunitas, dan pemuda dibutuhkan untuk ikut mengurangi persoalan sampah di lingkungan.

Salah satu kelompok yang sudah lama bergerak dalam persoalan tersebut adalah komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS), Ahmad Thalib, warga Tamangapa yang telah terlibat dalam aktivitas pengelolaan sampah sejak 2016, menceritakan beragam kegiatan yang dijalankan komunitasnya untuk mengelola sampah sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Salah satu kegiatan yang dilakukan komunitas adalah mengolah sampah organik, terutama kulit buah, menjadi eco enzyme. Temuan pengolahan tersebut dipakai untuk menyiram kolam lindi di TPA Tamangapa sebagai salah satu usaha mengurangi bau. Komunitas juga menjalankan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pembuatan dan penggunaan eco enzyme.

Sampah yang dikelola berasal dari warga sekitar dan salah satu gerai Alfamidi di wilayah tersebut. Thalib mengatakan sampah organik dan anorganik sama-sama banyak akibatnya keduanya perlu mendapat perhatian dalam pengelolaannya.

Untuk sampah anorganik, pengelolaannya dilakukan sampai tahap penjualan tanpa melalui tahapan pengolahan. Sedangkan sampah organik diolah menjadi eco enzyme, meskipun belum sampai pada tahap penjualan.

Dalam kegiatan tersebut, Ahmad dan anggota komunitas ikut menyajikan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat. Mereka juga memberikan contoh dan membagikan pengalaman mengenai penggunaan hasil pengolahan sampah.

Masyarakat juga mulai dilibatkan dengan memilah sampah dari rumah. Akan tetapi, mengubah kebiasaan masyarakat menjadi salah satu tantangan yang masih dirasakan komunitas.

“Kendalanya mengubah kebiasaan dan karakter yang sudah mendarah daging,” ujar Thalib.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: