JALUR DUA.COM, BULUKUMBA — Kasus curnak Bulukumba kembali menyita perhatian publik Sulawesi Selatan. Dua ekor sapi milik warga Desa Sapobonto raib dalam sekejap. Namun, kerja cepat tim gabungan Polres Bulukumba membuahkan hasil. Lima terduga pelaku berhasil diamankan dalam operasi senyap yang digelar dini hari.
Kasus ini bukan sekadar pencurian ternak biasa. Ada unsur barter, media sosial, hingga lintas kabupaten yang terlibat. Lebih mengejutkan lagi, transaksi bermula dari sebuah unggahan Facebook tentang anjing jenis Pitbull.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang keamanan digital, kewaspadaan sosial, serta komitmen aparat dalam menjaga stabilitas wilayah.
Kasat Reskrim Polres Bulukumba, Iptu Muhammada Ali, S.Sos menjelaskan:
“Kasus ini berawal dari postingan IS di Facebook yang menawarkan seekor anjing jenis Pitbull untuk dijual. Kemudian RP menanggapi dengan menanyakan harga dan akhirnya disepakati sistem barter dengan dua ekor sapi.”
Setelah sepakat, tiga pelaku dari Bone datang ke Bulukumba membawa anjing tersebut. RP menunjukkan lokasi kandang. HE dan IS menuntun sapi ke mobil pickup. Setelah sapi dimuat, anjing diserahkan sebagai bagian barter. Sapi kemudian dibawa ke Bone.
Tim gabungan Resmob Satreskrim, Kamneg Satintelkam Polres Bulukumba, dan Unit Reskrim Polsek Bulukumpa bergerak cepat. Berkoordinasi dengan Resmob Polres Bone, mereka melakukan penangkapan bertahap.
RP dan RD lebih dulu diamankan pada Rabu malam (25/2/2026). Dari hasil interogasi, identitas tiga pelaku lain terungkap. Operasi berlanjut hingga Jumat dini hari (27/2/2026), sekitar pukul 01.30 WITA, di Kecamatan Cina, Bone.
Barang bukti yang diamankan:
Dua ekor sapi dalam keadaan hidup
Satu unit mobil pickup
Tiga unit handphone
Seluruh pelaku kini diamankan di Mapolres Bulukumba untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Dampak bagi Korban dan Masyarakat
Bagi NW, kehilangan dua ekor sapi bukan sekadar kerugian materi. Sapi adalah investasi keluarga, tabungan hidup, dan harapan masa depan. Di wilayah pedesaan, ternak sering menjadi penopang ekonomi utama.
Kembalinya sapi dalam kondisi hidup tentu menjadi kelegaan tersendiri. Namun trauma dan rasa waswas tetap membekas.
Kasus ini juga menjadi refleksi sosial. Media sosial yang awalnya menjadi ruang interaksi kini bisa menjadi pintu masuk kejahatan jika tidak digunakan bijak.
Kasus curnak Bulukumba menjadi pelajaran penting bahwa kejahatan kini bisa berawal dari ruang digital. Kecepatan aparat patut diapresiasi, namun kewaspadaan masyarakat tetap kunci utama.
Sinergi antara masyarakat, aparat, dan literasi digital menjadi benteng pencegahan kejahatan di masa depan.






