JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, perhatian terhadap sidak harga sembako di Bulukumba menjadi sorotan publik. Anggota DPR RI Komisi XI, Hj. Andi Yuliani Paris, turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Cekkeng, Kabupaten Bulukumba.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan inflasi tidak melonjak menjelang lebaran.
Aksi turun ke lapangan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di tengah dinamika ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih, stabilitas harga menjadi isu krusial, baik secara lokal maupun nasional.
Sidak ini dilakukan untuk mengecek langsung kondisi harga bahan pokok di pasar tradisional. Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah pasar di Bulukumba, termasuk Pasar Sentral dan Pasar Cekkeng, ditemukan kenaikan harga pada beberapa komoditas, terutama cabai. Namun, kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar.
“Hasil pemantauan menunjukkan ada sedikit kenaikan, terutama pada cabai, tetapi tidak terlalu tinggi. Kita berharap inflasi tidak semakin meningkat menjelang hari raya,” ujar Andi Yuliani Paris saat meninjau aktivitas jual beli.
Kenaikan harga cabai memang menjadi fenomena musiman menjelang hari besar keagamaan. Secara nasional, data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan tren kenaikan komoditas pangan setiap Ramadan hingga Idul Fitri. Namun, pengawasan yang ketat dapat mencegah lonjakan tidak wajar.
Hj. Andi Yuliani Paris sebagai anggota Komisi XI DPR RI yang membidangi keuangan dan perbankan. Lokasi sidak difokuskan di Pasar Cekkeng, salah satu pusat distribusi bahan pokok di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Kehadiran wakil rakyat di tengah pedagang dan pembeli memberikan dampak psikologis positif. Masyarakat merasa diperhatikan, sementara pedagang menyadari bahwa harga diawasi secara aktif.
Sidak dilaksanakan pada Jumat, 27 Februari 2026, atau sekitar dua pekan menjelang Idul Fitri. Waktu ini dipilih karena biasanya harga mulai bergerak naik akibat meningkatnya permintaan.
Dalam pelaksanaannya, Andi Yuliani Paris berdialog langsung dengan pedagang, mengecek harga komoditas utama seperti beras, minyak goreng, gula pasir, telur, ayam, dan cabai. Ia juga memantau stok distribusi untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman.
Dalam pernyataannya, Andi Yuliani menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat.“Kita berharap daya beli masyarakat bisa meningkat, meskipun ada sedikit kenaikan inflasi,” tambahnya.
Daya beli adalah indikator penting dalam pemulihan ekonomi. Jika harga melonjak terlalu tinggi, masyarakat kelas menengah dan bawah akan terdampak signifikan. Oleh karena itu, stabilitas harga menjadi fondasi kesejahteraan.
Peran TPID dan Dinas Perdagangan
Sidak harga sembako di Bulukumba juga melibatkan koordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Lembaga ini berfungsi mengantisipasi potensi kenaikan harga berlebihan menjelang hari besar.
Koordinator Pasar Dinas Perdagangan Kabupaten Bulukumba, Muhammad Idris, menyampaikan apresiasinya.
“Kami sangat mengapresiasi kunjungan Ibu Hj. Andi Yuliani Paris yang turun langsung memantau kondisi harga di pasar. Dinas Perdagangan bersama TPID terus melakukan pemantauan rutin untuk memastikan harga tetap terkendali dan stok bahan pokok aman hingga menjelang lebaran,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa koordinasi dengan distributor terus dilakukan guna mencegah spekulasi harga.
Perbandingan Tren Lokal dan Nasional
Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Indonesia, kenaikan harga di Bulukumba relatif lebih terkendali. Di beberapa kota besar seperti Makassar dan Jakarta, harga cabai sempat melonjak hingga dua digit persentase. Sementara di Bulukumba, kenaikannya masih moderat.
Hal ini menunjukkan efektivitas pengawasan daerah. Pendekatan preventif melalui sidak menjadi salah satu strategi pengendalian inflasi berbasis lokal.
Sidak harga sembako di Bulukumba menjadi bukti nyata komitmen pengawasan ekonomi dari pusat hingga daerah. Di tengah tantangan inflasi musiman, langkah preventif seperti ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Transparansi, koordinasi lintas lembaga, serta keterlibatan langsung wakil rakyat di lapangan adalah kunci menjaga kepercayaan publik. Menjelang Lebaran 2026, harapan masyarakat sederhana: harga terkendali, stok aman, dan daya beli tetap terjaga.
Dengan pengawasan yang konsisten dan kolaborasi antara DPR RI, TPID, serta Dinas Perdagangan, optimisme itu bukan sekadar harapan—melainkan target yang realistis untuk dicapai.***






