JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – Rabu, 25/02/2026, di Aula Terbuka Makodim 1411/Bulukumba di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Ela-Ela, Kecamatan Ujung Bulu, menjadi saksi pergantian kepemimpinan penting di tubuh TNI AD. Jabatan Komandan Kodim (Dandim) 1411/Bulukumba resmi diserahterimakan dari Letkol Inf Sarman, S.Hub.Int kepada Letkol Inf Heraldo Tabasonda.
Namun, lepas sambut Dandim 1411/Bulukumba kali ini terasa berbeda. Ia bukan sekadar agenda administratif. Di balik barisan rapi seragam loreng dan prosesi formal militer, terselip kisah tentang kedekatan, ketulusan, dan hubungan emosional yang tumbuh antara pemimpin dan masyarakat.
Pergantian ini menandai babak baru kepemimpinan TNI AD di Kabupaten Bulukumba. Sekaligus menjadi refleksi atas pengabdian yang telah ditorehkan.
Jejak Kepemimpinan Letkol Inf Sarman
Bagi sebagian masyarakat Bulukumba, nama Letkol Inf Sarman bukan sekadar pejabat militer. Ia dikenang sebagai sosok yang membumi dan humanis.
Anggota DPRD Bulukumba dari Fraksi Partai NasDem, Kurdiansyah Anggoro, menyampaikan apresiasi terbuka dalam momen perpisahan tersebut.
“Selamat melanjutkan tugas di tempat yang baru. Semoga senantiasa diberikan kelancaran dan kesuksesan dalam setiap amanah yang diemban,” kata Kurdiansyah Anggoro.
Lebih dari sekadar formalitas, Anggoro mengungkap sisi personal sang Dandim.
“Beliau sangat ramah, tidak memandang status sosial, sering mengajak ngopi dan pernah satu kali ke bioskop,” pungkasnya.
Nukilan ini memperlihatkan dimensi lain kepemimpinan militer. Di tengah struktur komando yang tegas, ada ruang untuk relasi yang cair dan inklusif. Sosok yang mau “turun ngopi” bukan sekadar gestur santai, melainkan simbol kepemimpinan yang membuka ruang dialog.
Lepas sambut Dandim 1411/Bulukumba bukan hanya peristiwa administratif. Ia adalah kisah tentang pengabdian, relasi kemanusiaan, dan estafet kepemimpinan.
Letkol Sarman meninggalkan jejak kehangatan yang dikenang. Sementara Letkol Heraldo Tabasonda memulai langkah dengan harapan baru.
Di antara barisan upacara dan suara protokol, ada kisah tentang secangkir kopi, percakapan santai, dan kepercayaan yang tumbuh perlahan.Dan mungkin, di situlah letak kepemimpinan yang sesungguhnya.**




