JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – Pergantian kepemimpinan di tubuh TNI bukan sekadar agenda seremonial. Di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Bulukumba, momen sakral itu berlangsung ketika Letkol Inf Sarman, S.Hub.Int resmi menyerahkan tongkat komando Dandim 1411/Bulukumba kepada Letkol Inf Heraldo Tabasonda. Prosesi berlangsung khidmat, penuh penghormatan dan simbol regenerasi kepemimpinan.
Namun cerita tak berhenti di sana.
Beberapa jam setelah serah terima jabatan, suasana berubah menjadi lebih cair. Letkol Inf Sarman memilih menyambangi Warkop Dottoro, tempat yang akrab bagi masyarakat Bulukumba. Di sana, ia bertemu dengan Ketua DPC Perpadi Bulukumba, Ir. H. Islamuddin, Kamis, 26 Februari 2026.
Bukan rapat resmi. Bukan pula agenda protokoler. Hanya secangkir kopi, cemilan, dan obrolan hangat tanpa sekat.
Pertemuan tersebut menjadi simbol kuat bahwa hubungan TNI dan masyarakat di Bulukumba tak berhenti hanya pada tugas dan struktur organisasi. Ada kedekatan emosional yang terbangun.
Ir. H. Islamuddin mengenang perjalanan kebersamaan itu dengan nada haru.
“Hubungan yang tanpa sekat ini terjalin sejak pak Dandim Bulukumba bertugas disini,” kata Ir. H. Islamuddin.
Letkol Inf Sarman dikenal aktif turun langsung ke masyarakat, berdialog dengan berbagai elemen, mulai dari tokoh agama, pemuda, hingga pelaku usaha.
Tak heran jika pertemuan di warkop terasa seperti pertemuan sahabat lama, bukan sekadar pejabat dan mitra kerja.
Dedikasi untuk Bumi Panrita Lopi.
Bulukumba, yang dikenal dengan julukan Bumi Panrita Lopi, memiliki dinamika sosial yang khas. Stabilitas keamanan dan kondusivitas wilayah menjadi faktor penting dalam mendukung pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, Ir. H. Islamuddin juga menyampaikan apresiasi mendalam:
“Terima kasih Bapak Letkol Inf Sarman atas dedikasi, sinergitas, dan pengabdian luar biasa selama menjabat sebagai Dandim 1411/Bulukumba. Bumi Panrita Lopi akan selalu mengenang dedikasi Bapak dalam menjaga kondusifitas wilayah. Selamat bertugas di tempat yang baru, semoga semakin sukses.”
Pernyataan tersebut bukan sekadar formalitas perpisahan. Ini adalah pengakuan atas kepemimpinan yang membumi dan membangun sinergi nyata.
Secangkir Kopi dan Nilai Kepemimpinan
Ada sesuatu yang berbeda ketika seorang pejabat memilih mengakhiri masa tugasnya dengan duduk santai di warung kopi. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Hanya percakapan jujur dan tawa ringan.
Di situlah sisi humanis kepemimpinan terlihat.
Kepemimpinan bukan hanya tentang keputusan strategis, tetapi juga tentang sentuhan personal. Warkop Dottoro menjadi saksi bahwa relasi sosial lebih kuat dari sekadar jabatan.
Momen ini mengingatkan bahwa komunikasi informal sering kali lebih efektif membangun kepercayaan publik dibandingkan forum resmi.***




